Perbedaan Syariat Agama dan Hukum Adat

Perbedaan Syariat Agama dan Hukum Adat-  Indonesia merupakan sebuah negara negara yang luas dan memiliki penduduk yang menganut agama islam terbanyak islam di dunia, dan di negara ini juga banyak di dapatkan ratusan bahkan sampai ribuan suku, sehingga indonesia kaya akan budaya dan bahasa di daerah-daerah dari barat hingga timur.

Perbedaan Syariat Agama dan Hukum Adat

Perbedaan Syariat Agama dan Hukum Adat

Menurut sejarah masuknya islam di negara ini berawal dari jalur perdagangan muslim yang datang dari belahan asia, berkembanya islam dikenal sejak munculnya ulama-ulama besar seperti wali songo yang menyiarkan agama islam, dan sebenarnya jauh sebelum era wali songo banyak ulama dari luar negri yang sudah tiba di tanah nusantara yang berdakwah ke daerah-daerah indonesia.

Di Indonesia islam dikenalkan melalui pendekatan budaya, aqidah yang ditanamkan pada masyarakat di daerah-daerah dengan jalur pendekatan adat dan budaya daerah itu sendiri, ini merupakan motif dakwah halus tanpa ada kekerasan dan pemaksaan. dengan ini islam disambut baik oleh masyarakat dan islam menyebar dan berkembang secara pesat di wilayah-wilayah indonesia.

Namun ada sebuah problem yang timbul setelah berkembangnya islam, ini terjadi bagi kaum yang fanatik dan tidak mengerti sejarah dan pendalaman agama islam itu sendiri, karena islam didatangkan dengan pendekatan budaya , yang terjadi adalah bercampurnya syariat agama islam dengan budaya setempat.

Hal ini bisa kita lihat sendiri, setiap daerah memiliki kebiasaan yang dimotifkan dengan agama, seperti tarian adat atau upacara pernikahan dan lain-lain. sebut saja istilah tepung tawar dalam setiap upacara pernikahan atau acara lain, tepung tawar adalah sebuah kegiatan yang disakelarkan dengan sebuah wadah hidangan didalamnya terdapat beras kuning, tepung, kelapa, wadah yang berisi air dan dedaunan, jika kita melirik pada sejarah, kebiasaan ini adalah budayanya kaum hindu yang di sakelarkan di kuil-kuil mereka.

Namun masuknya dakwah melalu pendkatan ini, karena sudah menjadi kebiasaan yang melekat dari nenek monyang, oleh para ulama dimasa itu tidak melarangnya namun didalamnya dimasukkan doa dan zikir yang mengagungkan Allah Swt. yang harus kita ketahui ini bukanlah acara tepung tawar bukanlah sebuah kewajiban, namun terkadan ada kaum muslim yang fanatik mengganggap ini sebuah amalan.

Perbedaan Syariat Agama dan Hukum Adat

Kenapa para ulama tidak melarangnya..?
Inilah dakwah pada masa itu islam datang dengan motif halus agar bisa diterima dengan baik, dan pada masa  itu juga sangat sedikit orang yang mengetahui dan mengerti agama, jadi dalam hal ini ada istilah "bujukan halus".
Sebenarnya para ulama tidak menyukai karena itu bukan budaya islam, namun jika melarangnya secara keras maka islam akan sulit diterima, karena ini sudah menjadi kebiasaan kental pada masyarakat. tujuan ulama pada masa itu adalah membudayakan syariat dimana syariat islam dimasukkan kedalam budaya,
Islam masuk melalui tarian, didalam terdapat pujian kepada Allah, islam masuk melalu padepokan ilmu bela diri (silat), islam masuk melalui upacara-upacara adat lainnya
Yang sangat disayangkan adalah islam indonesia sekarang berpaling dari maksud ulama terdahulu, mereka sudah mensyariatkan budaya, terbalik arah diaman budaya-budaya yang ada dijadikan syariat, wajralah dikatakan banyak Bid'ah di indonesia, disinilah bermulanya.

Sekarang islam sudah banyak yang pintar dan mengerti keagamaan islam itu sendiri, namun unsur fanatik yang menjadi problem besar, kita lihat, mulai dari suku aceh, batak, padang, jambi, suda, jawa sampai ke papua sana, bagaiman pelaksanaan ibadanya. jika kita melihat pada amalan wajib bisa dikatakan 98% sama, namun amalan sunnah dan kebiasaan dalam keagamaa banyak yang saling bertolak belakang semua bergantung kepada adat dan budaya masing-masing.

Untuk menjaga diri kita dari hal-hal yang mudharat hanya dengan mempelajari agama islam secara murni yang terdapat dalam Al-Qur'an dan hadis-hadis shahih, islam itu bukan budaya, meskipun islam itu berawal di tanah arab islam bukanlah budaya mereka,  islam itu untuk semua umat dimanapun berada, karena Nabi Muhammad diutus ke dunia memmbawa agama islam sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta.

Adapaun berbedaan yang ada merupakan rahmat selama itu saling menghargai dan menghormati, hal ini sudah dicontohkan ulama-ualama besar, imam Syafi'i yang berbeda pendapat dengan gurunya, atau imam-imam lain yang berbeda pandangan satu sama lain, namun agama tetap ditegakkan dan saling mendukung argumentasi, bukan saling salah-menyalahkan pada masa sekarang yang sering kita lihat.

Jika umat muslim tidak dapat lagi memebedakan mana syariat agama dan yang mana hukum adat, maka mereka akan dekat dengan kesesetan. Nauzubillah...!!

Demikian sedikit penejelasan tentang Perbedaan Syariat Agama dan Hukum Adat, hendaklah kita bisa membedakannya dengan jelas dan nyata, jika ada kekurangan dari artikel ini mohon penambahan dan perbaikan dari pembaca, semoga bermanfaat.

1 Response to "Perbedaan Syariat Agama dan Hukum Adat"

  1. Terimakasih atas artikel anda yang menarik dan bermanfaat.
    Saya juga mempunyai tulisan yang sejenis yang bisa anda kunjungi di
    Explore Indonesia

    BalasHapus