4 Penyebab Guru Malas Mengajar di Kelas

4 Penyebab Guru Malas Mengajar di Kelas - Adakalanya seorang guru tidak fit atau tidak ada gairah (malas) mengajar di kelas, jika hal ini terjadi maka tentunya KMB (Kegiatan Belajar Mengajar) tidak akan tuntas dengan baik, Guru memang manusia biasa, jika ada permasalahan internal dan eksternal dapat membuat daya fikir guru tidak stabil dan berpengaruh pada aktifitasnya (mengajar), seharusnya seorang guru dapat bersikap prosfesional, tidak membawa masalahnya ke ruang belajar, namun kenyataannya hanya segelintir guru yang mampu.


4 Penyebab Guru Malas Mengajar di Kelas

4 Penyebab Guru Malas Mengajar di Kelas

Dalam hal ini kami merangkum 4 Penyebab Guru Malas Mengajar di Kelas, ini merupakan familiar terjadi di lingkungan kita, baik guru PNS terlebih lagi guru Non PNS.

1. Honor Sedikit dan Terlambat
Sangat memprihatinkan jika seorang guru bergantung pada pendapatan kerjanya sebagai pengajar, jika pendapatan itu mencukupi dan tepat waktu, mungkin saja jauh dari problem, nah bagaimana jika tidak cukup bahkan sangat kurang ditambah lagi proses penggajian selalu terlambat, ini biasanya terjadi pada sekolah swasta.

Jika sudah demikian, kinerja sang guru tidak akan maksimal, sering terlambat, malas masuk kelas, sering bolos kerja dan lain-lain, ini semua disebabkan karena ketidak puasan hasil kerja, terlebih lagi jika atasannya tidak mengerti, adakalanya pimpinan dalam instansi swasta menuntut terlalu banyak namun hak-hak pekerjanya tidak digubris bahkan kerap emosional.




Hal ini juga kerap terjadi bagi guru PNS, menggadaikan SK untuk meminjam uang di Bank, seharusnya pendapatannya banyak namun karena pinjaman ia hanya menerima sedikit  bahakan ada yang min. kalau sudah begini bagaimana bisa bekerja dengan baik.

2. Faktor Internal (Pimpinan)
Dalam instansi  swasta biasanya ada pimpinan yayasan, dibawahnya ada kepala sekolah. sikap pemimpin ini sangat mempegaruhi kinerja pegawai atau pekerjanya, Jika pimpinan tidak ramah, kurang sosial dan kerap menegur (kriti) tanpa melakukan penyelidikan. 

Seorang guru yang mendapat tekanan dari kepala sekolah atau pimpinan yayasan akan mempengaruhi kinerja guru, bahkan dalam waktu yang lama, seharusnya seorang pimpinan memikirkan ini demi kelangsungan yayasan yang di pimpinnya, namun terkadang untuk menanyakan kabar pekerjanya saja tidak mau dan gengsi.

Seorang pimpinan yayasan yang tidak menjaga hubungan baik dengan jajarannya (staf dan pegawainya) sudah dapat dipastikan sekolah atau yayasan itu akan sulit maju dan berkembang, ditambah lagi guru-gurunya bekerja asal-asalan.

3. Kesenjangan diri 
Ini terjadi pada diri seorang guru, belum siap menerima keputusan yang ditetapkan, terkadang ada guru yang merasa sudah bekerja maksimal, berupaya aktif dalam setiap kegitan dan program sekolah, namun ternyata dia belum dinilai baik oleh atasan.

Dalam instansi yayasan swasta tentunya ada jabatan-jabatan yang diisi oleh guru-guru dimulai dari kepala sekolah, wakil, sampai kepada wali kelas, tentunya setiap jabatan ini mendapat tunjangan khusus, adakalanya seorang guru tidak siap menerima keputusan tidak terpilih untuk menduduki jabatan tersebut, padahal ia merasa mampu dan lebih baik kinejanya dibandingkan orang lain, ini akan memperngaruhi kinerja guru tersebut.

Salah atau tidak salah semua itu tergantung guru dan pihak yayasan, yang jelas, jika seorang guru merasa tidak adil, maka ia akan cenderung meredam ini dalam hati, semangat untuk mengajar turun secara drastis dan ini akan sembuh dalam kurun waktu yang lama.

4. Guru abal-abal
Wajar saja KEMENDIKBUD, JSIT dan pengayom instansi pendidikan lainnya sangat menyarankan kepada seluruh sekolah swasta di indonesia agar memilih guru dan pegawai sesuai dengan jurusan masing-masing.

Masih banyak kita temukan sekolah yang simpang siur tenaga pengajarnya, sarjana teknik mengajar Bahasa Indonesia, Diploma Ekonomi mengajar Georgafi, yang lebih parah lagi sarjana pertanian sebagai bimbingan konsling. Kalau sudah demikian tentunya akan bertubrukan dengan masalah. baik sacara kinerja ataupun kualitas pendidikan sekolah, maka tidak heran jika ada sekolah yang tidak pernah mendapat akreditas B hanya karena tidak tertib mengatur guru-gurunya.

Guru yang yang mengajar tidak sesuai dengan bidangnya sudah dapat dipastikan, malas dan toledor akan terjadi, kinerjanya tidak maksimal dan asal-asalan. 




Dari poin-poin diatas bisa kita ambil hipotesa bahwa baik buruknya kinerja seorang guru 70% berpengaruh pada kepemimpinan, namun sebaik apapun pimpinan jika seseorang memang tidak ada jati diri menjadi guru dan hanya mengaharap pendapatan maka tetap saja kinerjanya tidak akan maksimal.

Ini lah 4 Penyebab Guru Malas Mengajar di Kelas yang kami simpulkan, semoga bisa menjadi mafaat.

0 Response to "4 Penyebab Guru Malas Mengajar di Kelas"

Posting Komentar