Budaya dan Syariat di Bulan Ramadhan



Budaya dan Syariat di Bulan Ramadhan - Banyak kesibukan yang dilakukan manusia selama bulan ramadhan antara ibadah dan budaya sudah bercampur aduk hampir tidak ada pembedanya di mata masyarakat, sebagian besar masyarakat muslim umumnya mengetahui apa sebenarnya yang harus dilakukan dan diamalkan pada bulan ramadhan, hal ini seringkali disampaikan di ceramah-ceramah gema ramadhan setiap tahunnya, tapi ternyata akibat pengaruh lingkungan kemajuan zaman, bulan ramadhan kerap diisi dengan hal yang tidak bernilai syariat, hanya kegiatan sia-sia.

Budaya dan Syariat di Bulan Ramadhan

Budaya dan Syariat di Bulan Ramadhan

Umumnya terjadi pada kalangan kepala rumah tangga memutar otak untuk dapat memenuhi trend ramadhan dikalangan masyarakat, berusaha terus bekerja mengejar rupiah dan banyak waktu terpakai bukan untuk ibadah.


Baca Juga :  Alasan Kenapa Jin Menampakkan Diri


asan Kenapa hantu Menampakkan DirApa aja hal yang Tidak Wajib tapi dilakukan di Bulan Ramadhan, zonapendidikan akan menyajikan untuk anda, agar bisa memilah-milah mana ibadah dan mana budaya.

Baju Baru
Semua orang sudah mengetahui bahwa baju baru di bulan ramadhan tidak wajib dan tidak berdosa jika tidak ada, namun ini adalah trend masyarakat, meskipun tidak mampu banyak orang rela berhutang dan menjual barang berharganya dan bahkan ada yang melakukan tindakan kriminal untuk dapat membeikan keluarganya baju baru di bulan ramadhan.

Kue dan makanan
Jika kita melirik pad zaman Rasulullah, di bulan ramadhan para sahabat tidak ada yang sibuk membuat makanan khas, baik dalam berbuka puasa atau hari lebaran, makanan khas di indonesia seperti opor ayam, gulai sapi atau jenis kue-kue lainnya adalah budaya bukan syariat.

Perayaan Malam 27 Ramadhan
Dalil Qath'i (dalil jhahir) tidak ada yang memastikan pada malam ke berapa ramadhan peristiwa lailatul Qadar itu terjadi, hanya ada berupa gambaran dan itupun masih dalam perdebatan para ulama, menurut hadits Shahih antara malam 20-30 atau minggu ke dua sampai terakhir atau minggu terakhir. tidak ada kepastian mala ke berapa ramadhan.

Yang menjadi problem adalah, banyak masyarakat muslim khusus bagi kaum awam setiap malam ke 27 ramadhan merayakan haflah (perayaan sakelar) memotong ayam dan memasaknya mengantarkan masakan tersebut ke imam kampung (tokoh agama, ustaz, kiyai) untuk meminta doa, selain itu mereka juga menyebutnya "malam Lai" maksudnya adalah malam lailatul Qadr.

Perayaan pada malam ke 27 ramdahan seolah-olah menjadi hal wajib, ternyata bukan hanya menyediakan makanan, ada juga memasang lilin di kuburan, tepatnya ditembok dindidng kuburan, jika ditanyakan dengan yakinnya mereka menjawab, ahli kubur akan merasa terang didalam kubur, nauzubillah,,,,ironisnya untuk menyangkal pola fikri dan menyampaikan kebenaran  kepada masyarakat sangatlah sulit karena mereka melakukan ini sudah sejak dahulu dan diajarkan oleh tokoh agama di kampung mereka.


Tarawih dan withir
Dalil tentang sholat tarawih dan withir dibulan ramadhan sudah jelas adanya dan ada kesepakatan jumhur ulama, namun yang kerap menjadi masalah adalah, cara pelaksanaannya, mana syariat mana budaya kadang kita tidak bisa lagi membedakannya.

Kita bisa melihat dalam satu kecamatan ada begitu banyak corak pelakasanaan sholat tarawih dan withir, kita tidak membahasa jumlah rakaat, tapi jenis pelaksanaanya. jika kita membandingkan pelaksanaan sholat tarawih di tanah suci (Masjidil haram)sholat tarawih dan withir sholat tarawih dan withir dengan yang ada di indonesia, tentunya saja banyak perbedaan, ringkasnya di negara kita banyak penambahan-penambahan dan itu terkadang bukan syariat. untuk mengetahui mana yang syariat mana yang budaya, silahkan anda telaah sendiri dari pelaksanaan sholat tarawih di lingkungan anda dan cerminkan dengan dalil-dalil dan tarikh Nabi Muhammad, paras sahabat. seyelah itu disukusikan kepada tokoh agama setempat (bukan berdebat)

Banyak sekali terjadi pertikaian dan perselisihan di bulan ramadhan, bahkan perkara antara jumlah rakaat sholat tarawih pun masih buming sampai sekarang. 

Terkadang saat seseorang mempelajari suatu syariat berdasarkan dalil yang shahih, kemudian menyampaikannya kepada masyarakat dan ternyata itu bertentangan dengan budaya yang sudah ada, maka tidak jarang orang tersebut dikecam dan dicemoohkan. apalagi orang yang menyampaikann itu adalah orang bisa, bukan ustaz yang berpakaian seperti ulama.

Masyarakat juga tidak salah, karena mereka juga mendapat pemahaman dari tokoh agama mereka. namun lebih banyaknya hanya mengikuti ucapan, tanpa mempeljarai hukum secara mendasar dari kitab dan dalil shahih.

Mari kita perhatikan dengan seksama,  apakah amalan kita selama bulan ramadhan yang sudah kita lalui semua itu berdasarkan syariat, jika kita beribadah hanya ikut-ikutan maka paluang untuk maqbul semakin jauh, yang perlu kita ketahui adalah dosa terbagi dua: 
  1. yang pertama dosa Jhahir  dosa melangar aturan Allah                                
  2. dan yang kedua dosa syubhat: dosa yang timbul dari penyelewengan ibadah, kita beribadah namun ibadah yang kita lakukan bukan syariat dari Allah dan Rasul. 

Baca Juga : Pengertian Khalifah Dalam Islam
 
Banyak orang memiliki keyakinan kuat dari keabsahan ibadah yang ia lakukan, meskipun amalan ibadahnya tidak ada dalil yang jelas, hanya ajaran turun-temurun, dengan bangga mengatakan, yang saya lakukan adalah kebaikan meskipun Nabi tidak ajarkan, ini kan baik, ya tidak masalah jika kita lakukan.  

Jika memang yang ia lakukan itu baik tentunya Rasulullah sudah mengajarkan dan memberikan contoh, namun ternyata tidak, secara tidak langsung ia menyatakan dirinya lebih bijak dari Rasulullah, padahal kenyataannya masih banyaka amalan dari hadits nabi yang shahih belum mampu terlaksana, kenapa harus menambah ibadah yang belum jelas dalilnya. Allahu A'lam. demikian seidkit jabaran seputar Budaya dan Syariat di Bulan Ramadhan semoga bermanfaat.


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Budaya dan Syariat di Bulan Ramadhan"

Posting Komentar