Pengertian dan Pembagian Najis

Pengertian dan Pembagian Najis - Kajian Fiqih kali ini membahas seputars Najis, apakah pengertian dari najis.? bagaimana ciri-ciri najis.? apa contoh najis.? bagaimana cara mensucikan diri dari najis.? kami rangkum dalam artikel ini semoga bermanfaat.

Pengertian dan Pembagian Najis

Pengertian dan Pembagian Najis

Pengertian Najis, Najis adalah sesuatu benda (padat dan cair) kotor dan jorok yang tidak sah diseratakan dalam sholat bagi yang terkena najis tersebut, adapun contohnya adalah : Kotoran manusia, air kencing, kotoran binatang, darah, nanah, bangkai lalat dan sebagainya.

Sebagai catatan, tidak semua yang jorok menurut kita itu najis, namun setiap najis pasti jorok dan kotor, ada beberapa yang tidak termasuk dalam kategori najis, seperti kotoran mata, ludah, hingus, kotoran hidung dan lainnya, jika terkena bagian badan anda disaat anda sudah berwudhu' maka wudhu' tersebut tidak lah batal.

Banyak orang yang was-was saat ingin mengerjakan sholat ternyata hingusnya keluar, saat ia membuang hingus tersebut ternyata mengenai jari tangannya, ragu wudhu'nya batal. setelah anda mengetahui bahwa hingus itu bukan najis maka anda tidak perlu was-was lagi.


Pembagian Najis
Najis itu ada pembagiannya atau bisa dikatakan aa tingkatan najis, ulama fiqih membaginya menjadi tiga bagian yaitu:

  1. Najis Ringan
  2. Najis Berat
  3. Najis pertengahan

1. Pengertian Najis Ringan
Adapun bagian najis ringan ini adalah najis yang tidak memberikan efek besar, potensi joroknya tidak terlalu dan cara mensucikannya pun tergolong mudah. seperti kencing anak bayi laki-laki usia dibawah 2 tahun yang hanya mengkonsumsi susu saja.

Cara mensucikan najis ringan adalah dengan memercikkan air ke bagian benda yang terkena najis tersebut secara merata, jika yang terkena najis itu berupa kain maka setelah memercikkan dan meratakan air maka kain terebut harus di peras.

Jika berasal dari pada air kencing perempuan maka harus dilakukan pembasuhan total dengan cara mengalirkan air pada permukaan kain yang terkena najis tersebut.

2. Najis Pertengahan
Bagian yang kedua ini adalah najis pertengahan antara berat dan ringan, adapun contoh dari najis pertengan adalah : Darah, nanah, minuman yang memabukkan, susu hewan yang tidak halal dikonsumsi seperti susu kucing dan harimau.

Cara mensucikan najis pertengahan ialah dengan menyiramkan air hingga bekas najis itu hilang  dari bentuk, warna dan baunya, jika pakaian anda terkena najis pertengahan maka anda harus berupaya untuk mensucikannya barulah sah diapakai untuik shalat.

Menurut pendapat jumhur ulama fiqih jika sudah dilakukan upaya pembersihan namun ternyata yang dapat hilang hanya warna dan bentuknya namun baunya tetap masih ada, maka itu sudah diakatakn suci, (dimaafkan) dengan catatan sudah dilakukan upaya maksimal.

3. Najis Berat
Kategori najis berat merupakan najis taratas, sesuatu yang sudah jelas diharamkan secara totalitas dalam Al-Qur'an, seperti anjing dan babi, anak kedua hewan ini atau salah satunya, fonis hewan ini diakatakan najis berat tanpa tawar menawar, meskipun ada pendapat mengatakan dibolehkan makan babi jika berada dalam kesulitan di tengah hutan namun itu hanya penggalan cerita, pastinya Allah akan memberikan solusi terbaik.

Cara membersihkan najis berat ialah dengan membasuhnya sebanyak 7x (tujuh kali, salah satunya dicampurkan dengan tanah bersih, dalam hal ini biasa dikenal dengan istilah sama'. dalam kajian fiqih pensucian dari najis berat adalah hanya dapat dialakukan dengan tanah dan air, bukan dengan sabun dan sikat.

 

Najis yang diamaafkan

Selain pembagian najis tadi, ada juga jenis naji lain yaitu najis yang dimaafkan, cirinya tidak berbeeda dengan ketiga pembagian najis diatas, namun hanya kadar dan jumlahnya saja berbeda. seperti setitik darah, nanah tang tak nampak oleh penglihatan biasa, selain itu najis yang dibawa oleh percikan air di musim hujan, darah yang sedikit pada daging yang sudah disembelih. ciri najis diatas masuk dalam kategori najis dimaafkan.Namun jika ada keraguan pada diri anda, sebaiknya anda mensucikannya agar tidak menjadi hambatan maqbulnya ibadah.

Demikianlah sedikit pembahasan seputar Pengertian dan Pembagian Najis, semoga bermanfaat dan bisa menjadi imu pengetahuan kita besama.

0 Response to "Pengertian dan Pembagian Najis"

Posting Komentar